Hai, lagi.



Sambungan… "Hai.."

Lampu kabin bangun dari redupnya, mata perih, baru semenit tidur rasanya, leher pegal, pinggang terasa ngilu, pinggul rasanya sudah rata dengan kursi. Aku terkesiap seolah melupakan satu hal. Segera kulirik ke samping, Elly sudah bangun melepas pandangannya keluar jendela, atau jangan-jangan dia gak tidur semalam, rambutnya sekarang diikat ekor kuda. Dengan jaket longgar, macam pebulutangkis wanita hendak menuju lapangan.

Ia menoleh kearahku sambil melayangkan senyum lagi, senyum yang terukur dengan meteran terstandar internasional yang di validasi oleh ratusan ilmuwan dunia. Jika dunia ini punya remot, maka akan kutekan tombol “pause” hingga ia terus tersenyum begitu. Senyum yang mampu memijat, badan pegal-pegal hilang seketika, blast. Atau senyum yang mampu membius sehingga rasa sakit di tengkuk lenyap begitu saja. Pinggul yang rata kembali seperti sedia kala.

Cepat sekali tuhan mengantar rejeki hari ini, baru membuka mata sudah disuguhi senyum yang aduhai, surga dunia, naik kereta api serasa naik kapal terbang.

Apakah aku mimpi? Ah, jika ini mimpi, aku belum mau terbangun, aku terus berharap lanjutannya dan menunggu sampai Elly membawakan segelas susu hangat dan sebingkah bika Siana kehadapanku sampai ia tersenyum lagi. Tapi aku cemas, takut nanti malah Chris John yang datang menggempurkan tinju bogor nya ke mukaku.

“Good morning” itu sapaan santainya.

“Dah nak sampai ni KL sentral” katanya memberitahu.

Pukul enam lebih tigapuluh menit waktu Malaysia. Gawat ini kupikir, berharap sinyal kereta hilang biar kereta berhenti, tapi ini bukan komuterline Jakarta, atau tiba-tiba ada kampanye pilkada, pilkada darimana, lagian kampanye apa subuh-subuh begini. Tapi aku inginnya waktu berjalan lambat, slow motion, biar senyum yang tadi hanya sedetik duadetik akan menjadi sepuluh detik, biar semakin lama waktu untuk bercakap lagi dengan Elly.

Ah, aku menyesal tidur semalam, sungguh menyesal. Aku tak tau sebenarnya, jangan-jangan Elly ingin bercerita semalaman denganku dideru gemeretak roda kereta. Eh, aku malah tidur. Atau jangan-jangan waktu tidur Elly membangunkanku dengan tepukan manja di pundak, tapi aku yang tak sadar menampis tangan elly dan melajutkan tidur, sambil berkata “ah, jangan ganggu, masih nak tidur ni”. Jika memang begitu, aku sungguh akan mengutuk diriku sendiri. Menenggak cairan pembius gajah liar sumatera. Ingin ada tombol rewind untuk mengulangi scene yang terlewati semalam tadi.

Dengan kesan yang biasa aku bertanya apakah ia akan langsung ke Malacca, pertanyaan yang simple dan tak menampakkan ada maksud yang tersirat, mulus seperti apa adanya. Rupanya dia ingin stay dulu sampai besok di KL jumpa kawan-kawan. Selepas ini ia akan langsung menuju Chinatown untuk istirahat di Eclipse Guesthouse, sebuah penginapan budgeted. Alamak, pucuk dicinta ulampun tiba, serigala berburu domba.

Bunyi lokomotif bergaung agung, segenap isi gerbong kelabakan melipat selimut, ada pula kegaduhan seorang mat saleh mencari sandalnya yang lepas sewaktu pulas. Tak hanya itu, padangan akan mereka yang tengah membetulkan kancing baju juga ada, padahal ruangan gerbong sangat dingin melebihi dinginnya pondok halimun dimalam hari, pokoknya macam-macam.
Lampu menyala semakin terang, mat saleh dihadapan menggoncang bahu kawan-kawannya. Menunjuk nunjuk keluar layaknya pelaut yang selamat dari badai dan akhirnya melihat daratan. Mereka sigap menghitung barang bawaan dan segera siap dalam hitungan detik. Masih dengan tank top bertuliskan “Singha Beer, Premium Beer” bir premium kebanggaan warga Thailand. Mereka otomatis antri didepan pintu untuk turun, yang lain mengikuti.

Platform kedatangan KL sentral yang terletak di ground bawah tanah masih sepi. Agaknya kami penumpang pertama yang datang hari ini.

Aku dan elly berjalan beriringan. Lalu menuju musholla yang terletak dibagian sudut balai ketibaan. Masih pukul tujuh kurang lima belas pagi. Manusia sudah lalu lalang memadati hall stasiun sentral ini.
Aku membasuh muka, alangkah dinginnya.

Di Pasar Seni setelah turun dari Platform LRT, kami memintas jalan ke Petalling Street, masih sepi. Sekali lagi yang mebuatku takjub, Elly jalannya cepat, seperti mobilan remot yang baru saja habis di charge penuh, aku biasanya jalan cepat juga, tapi mengingat aku akan berjalan bersamanya, aku sedikit memperlambat. Tapi aku salah telah menyepelekan kemampuan berjalannya. Kami tidak menuntaskan jalan Petalling hingga ujung, jalan petaling seperti tanda tambah, ditengah kami sasar ke kanan hingga keluar di jalan sultan, jejeran gusthouse budgeted bisa ditemui disana.

-------
Dilantai atas, menuju kamar mandi mesti melewati lorong dulu, lorong yang kiri kanannya berjejer kamar-kamar tamu, menghentakkan langkah juga harus hati-hati, kalau perlu berjinjit-jinjit sembari menekuk tangan kelinci, karena lantai dari kayu berdebur-debur setiap melangkah, takut akan megganggu istirahat tamu lain.

Sarapan pagi disediakan gratis bagi para tamu, lumayan walau hanya roti dengan selai dan segelas teh manis panas cukup mengganjal perut menjelang siang biar tidak mati kelaparan.

Tak ramai, hanya ada sepasang Romanian membuat roti panggang, mendapati saya datang, mereka spontan mengucapkan “selamat pagi”. Jelas sekali mereka berusaha keras mengucapkannya dalam bahasa melayu. Padahal bisa saja mereka mengucapkan good morning, toh, itu sapaan yang universal saat ini menurutku. Tetapi mereka tetap berusaha berbicara dalam bahasa lokal.

Berbarengan dengan itu, Elly datang terburu-buru membawa ember dengan beberapa helai jemuran ke balkon belakang, sekilas terlihat seperti pesona Taylor Swift tengah menggeraikan rambut, rupanya ia mencuci baju didalam bathroom.

Aku pindah duduk ke bilah tangga dengan cangkir teh di tangan.

Bersambung…
0 Responses

Drop Comment

Ada kesalahan di dalam gadget ini