Tali Rapia

hampir sebulan saya tinggal disini, jauh dari sistem yang saya punya di Indonesia, jauh dari orangtua, dan karib kerabat, serta teman-teman. didunia ini apapun yang kita perbuat rasanya kita butuh sebuah gantungan, bergantung dan menggantungkan. apa yang gantungan, gantungan ianya sebuah tempat yang selalu sedia jika kita butuh pertolongan, tak lebih itu adalah keluarga. bergantung itu ketahanan kita sebenarnya, manajemen yang sangat penting dalam tataletak kehidupan yang senantiasa berjalan. dan menggantungkan, apa saja sih yang bisa kita gantungkan dan dikategorikan kedalam 3 hal diatas. yah, ternyata sangat banyak manajemen dalam hidupa ini yang selalunya kita tidak ambil pusing.

mungkin satu tali rapia bisa untuk bergantung, tapi kita harus pertimbangkan. berapa lama ia mampu menopang berat kita, berapa besar kapasitas bebannya. dan berapa ketahanannya jika kita pakai untuk bergantung hingga nanti. itu tidak rumit, diluar kebebasan yang saya rasakan, begitu banyak bentuk manajemen yang saya alami. tak hanya waktu, tak hanya uang saja. kita berusaha menjadi pribadi yang besar, menjalankan hobi sehingga bisa tercetak didalam gen yang nanti kita wariskan. petualangan sebenarnya adalah unsur yang sama dengan diam, tetapi petualangan punya kerapatan massa yang sangat tinggi, dan kadang ter-implant kedalam diri manusia pribadi. walaupun bukan keseluruhan.

yang saya lakukan hanya mencoba, tinggal sebentar di Kuala Lumpur memberikan banyak sisi kemandirian yang belum saya sentuh, masih virgin dan terasa tidak biasa, berbeda sistem, berbeda jaringan bank, berbeda dalam banyak hal, walaupun disatu sisi banyak kesamaan. jangan fikirkan bahwa saya punya banyak uang untuk tinggal disini. bukan itu. kalau dipikir pikir lebih jauh dari Jakarta, capital city nya indonesia, tapi jarak itu sebenarnya bukan pemisah. ya saya rasakan seperti itu. yang memisahkan itu adalah waktu, mindset, dan keinginan. yang mana bila kita punya mindset yang berbeda, artinya kita perlahan sudah terpisah. bila kita punya punya keinginan berbeda, maka jalan yang kita ambil pun tidak lagi sama. kita berpisah, dengan perbedaan.

Multikultural, itulah yang menggambarkan Kuala Lumpur secara kenampakan socio-grafinya. kota yang laju dengan kesombongan gedung gedungnya. tata jalanan yang cukup rapi. tinggal disebuah rumah kontrakan yang dinamakan bilik sewa, baru dan terasa asing, ya 2 hari cukup untuk bertemu kawan baru, 3 hari cukup untuk punya dua teman, dan seminggu sudah berlalu dengan hari-hari baru yang mulai lahir sebagai bagian yang akan menjelma menjadi sebuah kumpulan baru.

undone

Drop Comment

Ada kesalahan di dalam gadget ini